Tuesday, October 29, 2019

Batik yang menjadi Identik Orang Indonesia

Berusaha mengenakan batik setiap adalah cara sederhana untuk mengapresiasi dan mendekati batik sebagai warisan budaya bangsa yang wajib untuk dilestarika.

Tak cukup ribuan kata untuk melukiskan batik. Apalagi batik Indonesia adalah sebuah warisan budaya yang agung. Apapun corak dan motif batik, di dalamnya ada cerita tentang unsur asli bangsa Indonesia yang menarik. Cerita tentang keindahan, filsafat, budi pekerti dan banyak hal lagi.
 
Batik lebih dari sekadar artefak hasil kreasi pendahulu kita. Akan tetapi sebuah karya universal tentang bangsa Indonesia. Dilihat saja batik sudah sangat menarik apalagi jika mampu menyerap lapis demi lapis makna di dalamnya.
Oleh karena itu ketika UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) dari Indonesia pada 2 Oktober 2009, sudah sepantasnya kita merasa bangga dan bahagia. Namun itu bukan berarti kita bisa puas dan berlega hati karena yang harus kita lakukan selanjutnya adalah melestarikan batik secara terus menerus. 

Melestarikan bukanlah sesuatu yang bermakna sempit dan terbatas pada pengertian “menjaga”. Akan tetapi juga “memberi perhatian” dengan mengenal, mengapresiasi mengkaji dan memasyarakatkan batik agar “abadi” dan “terawat” sepanjang masa. Memang tidak mudah untuk mencintai hasil kebudayaan yang sebelumnya identik dengan golongan ningrat dan kaum tua. Batik pernah mendapat cap seperti itu. Apalagi ada anggapan yang berkembang sejak lama bahwa untuk mengenakan batik seseorang juga perlu untuk memamahi makna dari corak batik.

Untuk melestarikan batik kita tidak harus menjadi seseorang yang mengenal sangat dalam makna dari corak batik. Mempelajari batik memang penting tapi sebelum itu ada hal yang pentingdilakukan untuk mulai melestarikan batik yakni dengan “mendekati” batik lebih dulu. Salag satu cara terbaik dan paling mudah untuk mulai mendekati batik adalah mengenakan batik sebagai pakaian sehari-hari. 
Semoga Hari Batik yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober seperti hari ini bisa menginspirasi dan melahirkan berjuta-juta ide untuk mengapresiasi dan merawat batik. Tindakan-tindakan sederhana yang nyata seperti mengenakan batik adalah satu cara untuk melestarikan batik.  Mengenakan batik adalah salah satu cara untuk “Menjadi Indonesia”.

Melestarikan Batik Nusantara

Sejak diresmikan sebagai warisan budaya oleh dunia internasional melalui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada 2009, masyarakat Indonesia harus lebih bertanggung jawab untuk mempertahankan kelesatatian Batik nusansantara. Akan tetapi, banyak masyarakat Indonesia yang belum terlalu sadar dengan masalah ini. Untuk itu, diperlukan sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait.
  
Bangga menggunakan Batik
Menjadi warisan budaya bukan berarti kain Batik hanya disimpan di museum atau bahkan lemari Anda. Dengan menggunakannya, Anda telah membantu mempromosikan Batik kepada orang lain secara tidak langsung. Tentunya dengan mempromosikan kain khas Indonesia ini akan membuatnya semakin terkenal dan masyarakat seluruh dunia tahu bahwa Batik adalah milik Indonesia.  

Dukungan pemerintah kepada pelaku bisnis Batik
Kain Batik bisa hadir di tengah-tengah masyarakat saat ini tidak lepas dari kerja para produsen dan pelaku bisnis kerajinan ini. Jika para pebisnis berperan untuk memproduksi Batik, maka peranan pemerintah ialah mendukung para pebisnis ini. Caranya, cukup bantu mereka memasarkan produk Batik hingga ke mancanegara. Dengan begitu, pemerintah telah melakukan langkah besar untuk melestarikan Batik nusantara. 

Memperkenalkan Batik ke kancah Internasional
Banyak negara yang menggelar pameran bertema Produk Khas Luar Negeri yang bisa diikuti oleh berbagai negara di seluruh dunia. Dengan mengikuti acara ini, Indonesia bisa melestarikan Batik dan kain khas lainnya.. Tujuannya lainnya adalah untuk memberikan informasi bahwa Batik milik Indonesia dan keindahannya bisa Anda nikmati dengan membelinya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, kan? Produknya di beli dan menghasilkan keuntungan untuk para pembuat Batik dan informasi pentingnya berhasil disampaikan dengan baik.
Setelah membaca informasi di atas, tentu Anda akan menyadari bahwa melestarikan Batik tidak sesulit yang dibayangkan. Cukup lakukan hal-hal kecil yang bermakna, nama Batik Indonesia akan terkenal ke seluruh dunia.

Tuesday, October 22, 2019

Filosofi Batik Banyuwangi

Sejarah batik Banyuwangi berkembang berawal dari penaklukan Blambangan oleh Mataram (Sultan Agung, tahun 1633), dari hipotesa sejarah dimaksud dapat dikatakan asal muasal adanya kemunculan batik di Banyuwangi. Alkisah pada masa kekuasaan Mataram di Blambangan (abad 15) dimana banyak kawula Blambangan yang dibawa ke pusat pemerintahan Mataram Islam di Plered Kotagede, sehingga tidak mustahil kala itu banyak kawula Blambangan antusias untuk menekuni kerajinan batik di Keraton Mataram Islam di Plered Kotagede.

Banyak masyarakat Blambangan yang tertarik untuk menekuni warisan luhur bangsa (batik) yang dikembangkan dan dilestarikan di bumi Blambangan, sampai saat ini jumlah referensi koleksi motif batik Banyuwangi yang   tersimpan di museum Budaya Banyuwangi mencapai 22 (dua puluh dua) motif batik diantaranya : Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Paras Gempal, Kopi Pecah, Gedekan, Ukel, Moto Pitik, Sembruk Cacing, Blarak Semplah, Gringsing, Sekar Jagad, Semanggian, Garuda, Cendrawasih, Latar Putih, Sisik Papak, Maspun, Galaran, Dilem Semplah, Joloan dan Kawung (motif batik khas Banyuwangi terlampir), namun saat ini masih banyak ditemukan motif batik khas Banyuwangi yang belum direferensikan masuk dalam koleksi museum budaya Banyuwangi.

Batik Banyuwangi keberadaannya dari tahun ke tahun dinilai cukup menggembirakan, ditilik dari awal pengembangan batik di Banyuwangi, pembinaannya dimulai pada era tahun 80-an yang dimulai di Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi mengingat wilayah tersebut merupakan sentra batik yang ada di Banyuwangi.

Batik sekar jagad, punya filosofi keindahan dan keanekaragaman potensi sumberdaya alam dan sekelilingnya yang tersimpan mampu mengharumkan Bumi Blambangan dan alam sekelilingnya.
Batik gajah uling, bermakna masyarakat yang sehat dan kuat akan mampu mencari nafkah, walaupun tantangan hidup seberat apapun dan siap menghadapi cobaan dan permasalahan hidup di dunia.
Batik kangkung setingkes, punya makna kebersamaan modal awal dari kedamaian dalam menuju masyarakat yang ‘Gemah ripa loh jinawi toto tentrem kerto raharjo’.
Batik paras gempal, bermakna persatuan dan Kesatuan bakal runtuh apabila perbedaan yang terjadi tidak diselesaikan melalui semangat kebersamaan.
Batik kopi pecah, pemecahan masalah dilakukan secara gotong royong karena dalam permasalahan tersebut terdapat 2 kata kunci untuk menyelesaikan yakni ‘MAS dan ALLAH’.

Perbedaan Batik Banyuwangi dengan Batik Daerah Lain

Perbedaan ragam hias dan batik
  • Ragam hias adalah bentuk dasar hiasan yang biasanya akan menjadi pola yg diulang-ulang dalam suatu karya kerajinan atau seni. Contoh : Batik, ukiran
  • Motif hias adalah dasar atau corak dari sebuah bidang sehingga terlihat indah. Contoh : motif hias geometris (zig-zag, lingkaran 0. motif hias non geometris (motif hewan, motif tumbuhan)
  • Pola hias adalah rangkaian atau susunan motif, dengan jarak dan ukuran tertentu pada sebuah bidang, sehingga menghasilkan hiasan yang jelas arahnya. Contoh : bisa search berupa gambar
1)      Batik Banyuwangi 
Tak banyak orang yang tahu, bahwa sejatinya Banyuwangi merupakan salah satu daerah asal batik di Nusantara. Banyak motif asli batik khas Bumi Blambangan. Namun hingga sekarang, baru 21 jenis motif batik asli Banyuwangi yang diakui secara nasional. Jenis-jenis batik Banyuwangi itu salah satunya antara lain: Gajah Oling; Kangkung Setingkes; Alas Kobong; Paras Gempal; Kopi Pecah, dan lain-lain.Semua nama motif dari batik asli Bumi blambangan ini ternyata banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Misalnya, Batik Gajah Oling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa hewan seperti belut yang ukurannya cukup besar. Motif Sembruk Cacing juga motifnya seperti cacing dan motif Gedegan juga kayak gedeg (anyaman bambu). Motif-motif batik yang ada ini merupakan cerminan kekayaan alam yang ada di Banyuwangi. Motif batik seperti di Banyuwangi ini tidak akan ditemui di daerah lain dan merupakan khas Banyuwangi. 
2)      Batik Cirebon
Batik Cirebon mempunyai batik khas yang terkenal dan sekaligus menjadi ikon Cirebon adalah motif megamendung. Motif ini melambangkan awan pembawa hujan sebagai lambang kesuburan dan pemberi kehidupan. Batik Cirebon termasuk kedalam kelompok batik Pesisiran, namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik keraton. Besarnya pengaruh dua keraton (Kasepuhan dan Kanoman), sehingga lahirlah Motif batik Cirebonan Klasik antara lain: motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Patran Kangkung, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, Sawat Penganten, Katewono, Gunung Giwur, Simbar Menjangan, Simbar Kendo dan lain-lain.
3)      Batik Pekalongan
Motif Batik Pekalongan sedikit banyak dipengaruhi pembauran masyarakat Pekalongan, Jawa Tengah, dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada masa lalu. Beberapa jenis motif batik pengaruh berbagai negara itu kemudian dikenal sebagai identitasbatik Pekalongan. Motif itu adalah batik Jlamprang diilhami India dan Arab, batik Encim dan Klangenan dipengaruhi peranakan Cina, batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai yang tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang. Warna cerah dan motif beragam membuat batik Pekalongan maju pesat. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta, batik Pekalongan terlihat lebih dinamis lantaran permainan motif yang lebih bebas. Media kainnya pun bermacam-macam. Tidak hanya katun dan kaos, sutera juga menjadi andalan batik Pekalongan saat bersaing di luar negeri. Motif Jlamprang, Sekarjagat, atau motif khas lainnya, menjadi berkelas ketika dituangkan dalam bahan baku sutera.
4)      Batik Aceh
Motif batik Aceh rata-rata menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani seperti merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Warna-warna berani pada batik Aceh inilah yang menjadi ciri khas batik Aceh.Motif-motif pada batik Aceh umumnya melambangkan falsafah hidup masyarakatnya. Motif Pintu Aceh misalnya, menunjukkan ukuran tinggi pintu yang rendah. Kenyataannya, rumah adat Aceh memang berpintu rendah, namun di dalamnya memiliki ruangan yang lapang. Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat. Motif tersebut mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan.Selain motif-motif tersebut juga terdapat beragam motif dan corak khas Aceh yang indah dari batik Aceh, antara lain Pintu Aceh, Bungong Jeumpa, Awan Meucanek, Pucok Reubong, dan lain-lain.