Tuesday, October 22, 2019

Filosofi Batik Banyuwangi

Sejarah batik Banyuwangi berkembang berawal dari penaklukan Blambangan oleh Mataram (Sultan Agung, tahun 1633), dari hipotesa sejarah dimaksud dapat dikatakan asal muasal adanya kemunculan batik di Banyuwangi. Alkisah pada masa kekuasaan Mataram di Blambangan (abad 15) dimana banyak kawula Blambangan yang dibawa ke pusat pemerintahan Mataram Islam di Plered Kotagede, sehingga tidak mustahil kala itu banyak kawula Blambangan antusias untuk menekuni kerajinan batik di Keraton Mataram Islam di Plered Kotagede.

Banyak masyarakat Blambangan yang tertarik untuk menekuni warisan luhur bangsa (batik) yang dikembangkan dan dilestarikan di bumi Blambangan, sampai saat ini jumlah referensi koleksi motif batik Banyuwangi yang   tersimpan di museum Budaya Banyuwangi mencapai 22 (dua puluh dua) motif batik diantaranya : Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Paras Gempal, Kopi Pecah, Gedekan, Ukel, Moto Pitik, Sembruk Cacing, Blarak Semplah, Gringsing, Sekar Jagad, Semanggian, Garuda, Cendrawasih, Latar Putih, Sisik Papak, Maspun, Galaran, Dilem Semplah, Joloan dan Kawung (motif batik khas Banyuwangi terlampir), namun saat ini masih banyak ditemukan motif batik khas Banyuwangi yang belum direferensikan masuk dalam koleksi museum budaya Banyuwangi.

Batik Banyuwangi keberadaannya dari tahun ke tahun dinilai cukup menggembirakan, ditilik dari awal pengembangan batik di Banyuwangi, pembinaannya dimulai pada era tahun 80-an yang dimulai di Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi mengingat wilayah tersebut merupakan sentra batik yang ada di Banyuwangi.

Batik sekar jagad, punya filosofi keindahan dan keanekaragaman potensi sumberdaya alam dan sekelilingnya yang tersimpan mampu mengharumkan Bumi Blambangan dan alam sekelilingnya.
Batik gajah uling, bermakna masyarakat yang sehat dan kuat akan mampu mencari nafkah, walaupun tantangan hidup seberat apapun dan siap menghadapi cobaan dan permasalahan hidup di dunia.
Batik kangkung setingkes, punya makna kebersamaan modal awal dari kedamaian dalam menuju masyarakat yang ‘Gemah ripa loh jinawi toto tentrem kerto raharjo’.
Batik paras gempal, bermakna persatuan dan Kesatuan bakal runtuh apabila perbedaan yang terjadi tidak diselesaikan melalui semangat kebersamaan.
Batik kopi pecah, pemecahan masalah dilakukan secara gotong royong karena dalam permasalahan tersebut terdapat 2 kata kunci untuk menyelesaikan yakni ‘MAS dan ALLAH’.

No comments:

Post a Comment