Banyak
masyarakat Blambangan yang tertarik untuk menekuni warisan luhur bangsa
(batik) yang dikembangkan dan dilestarikan di bumi Blambangan, sampai
saat ini jumlah referensi koleksi motif batik Banyuwangi yang
tersimpan di museum Budaya Banyuwangi mencapai 22 (dua puluh dua) motif
batik diantaranya : Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong,
Paras Gempal, Kopi Pecah, Gedekan, Ukel, Moto Pitik, Sembruk Cacing,
Blarak Semplah, Gringsing, Sekar Jagad, Semanggian, Garuda, Cendrawasih,
Latar Putih, Sisik Papak, Maspun, Galaran, Dilem Semplah, Joloan dan
Kawung (motif batik khas Banyuwangi terlampir), namun saat ini
masih banyak ditemukan motif batik khas Banyuwangi yang belum
direferensikan masuk dalam koleksi museum budaya Banyuwangi.
Batik Banyuwangi keberadaannya dari
tahun ke tahun dinilai cukup menggembirakan, ditilik dari awal
pengembangan batik di Banyuwangi, pembinaannya dimulai pada era tahun
80-an yang dimulai di Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi
mengingat wilayah tersebut merupakan sentra batik yang ada di
Banyuwangi.
Batik sekar jagad, punya filosofi keindahan dan keanekaragaman potensi sumberdaya alam dan sekelilingnya yang tersimpan mampu mengharumkan Bumi Blambangan dan alam sekelilingnya.
Batik gajah uling, bermakna masyarakat yang sehat dan kuat akan mampu mencari nafkah, walaupun tantangan hidup seberat apapun dan siap menghadapi cobaan dan permasalahan hidup di dunia.
Batik kangkung setingkes, punya makna kebersamaan modal awal dari kedamaian dalam menuju masyarakat yang ‘Gemah ripa loh jinawi toto tentrem kerto raharjo’.
Batik paras gempal, bermakna persatuan dan Kesatuan bakal runtuh apabila perbedaan yang terjadi tidak diselesaikan melalui semangat kebersamaan.
Batik kopi pecah, pemecahan masalah dilakukan secara gotong royong karena dalam permasalahan tersebut terdapat 2 kata kunci untuk menyelesaikan yakni ‘MAS dan ALLAH’.
Batik sekar jagad, punya filosofi keindahan dan keanekaragaman potensi sumberdaya alam dan sekelilingnya yang tersimpan mampu mengharumkan Bumi Blambangan dan alam sekelilingnya.
Batik gajah uling, bermakna masyarakat yang sehat dan kuat akan mampu mencari nafkah, walaupun tantangan hidup seberat apapun dan siap menghadapi cobaan dan permasalahan hidup di dunia.
Batik kangkung setingkes, punya makna kebersamaan modal awal dari kedamaian dalam menuju masyarakat yang ‘Gemah ripa loh jinawi toto tentrem kerto raharjo’.
Batik paras gempal, bermakna persatuan dan Kesatuan bakal runtuh apabila perbedaan yang terjadi tidak diselesaikan melalui semangat kebersamaan.
Batik kopi pecah, pemecahan masalah dilakukan secara gotong royong karena dalam permasalahan tersebut terdapat 2 kata kunci untuk menyelesaikan yakni ‘MAS dan ALLAH’.




No comments:
Post a Comment